TUGAS MATA KULIAH PSIKOLOGI KESEHATAN
“ TEORI BELAJAR SOSIAL BANDURA”
Gambar 2.1 secara Umum Teori Belajar Sosial Bandura
1. Latar Belakang Munculnya Teori Belajar
Sosial Bandura
Teori pembelajaran sosial adalah perkembangan utama dari tradisi
teori pembelajaran perilaku (behavioristik). Teori belajar sosial dikemukakan
oleh seorang tokoh yang bernama Albert Bandura yang lahir pada tahun 1925 di
sebuah kota kecil di provinsi Alberta, Canada. Teori pembelajaran sosial (social
learning theory) dari Albert Bandura menerima kebanyakan prinsip teori
perilaku (behavioristik), tetapi terfokus jauh lebih banyak pada efek isyarat
pada perilaku dan pada proses mental internal, dengan menekankan efek pemikiran
pada tindakan dan tindakan pada pemikiran. Pada saat Bandura melakukan
percobaan-percobaan mengenai teori belajar sosial, waktu itu sangat dipengaruhi
oleh kelompok-kelompok peneliti dengan aliran teori belajar behavioristik.
Bandura melihat bahwa hewan-hewan yang dipergunakan untuk percobaan
memperlihatkan tingkah laku sendiri. Artinya tidak ada hewan lain atau dengan
kata lain hewan percobaan dari kelompok peneliti dengan aliran teori belajar
behavioristik tersebut tidak sosial. Hasil-hasil percobaan dan penelitian para
ahli teori belajar behavioristik seperti Skinner dan Thorndike diamalkan pada situasi
sosial. Padahal penelitian dan percobaan yang dilakukan oleh Skinner dan
Thorndike tidak dalam situasi sosial, sehingga Bandura menganggap bahwa perlu
diadakan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini. Bandura mengembangkan teori
belajar sosial juga karena ia melihat keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki
oleh teori belajar behavioristik yang pada saat itu merupakan teori yang
diterima oleh banyak kalangan. Bandura (dalam Panen, 2005:4.6) menguraikan
hal-hal keterbatasan teori belajar behavioristik yaitu:
a) Teori
behavioristik sukar diterapkan pada situasi kehidupan nyata. Tidak mungkin ada
satu orang yang terus menerus hadir setiap harinya untuk memberikan hadiah bagi
terlihatnya perilaku yang diinginkan guna menjamin meningkatnya frekuensi
munculnya perilaku tersebut. Biasanya orang harus mengatur dan mengendalikan
perilakunya sendiri.
b) Teori
belajar behavioristik tidak menerangkan mengenai terjadinya pembelajaran
perilaku baru. Kadang-kadang kita melihat orang melakukan suatu tindakan yang
belum pernah dilakukan sebelumnya.
c) Teori
belajar behavioristik hanya dapat menerangkan pembelajaran langsung (direct
learning), di mana konsekuensi diberikan segera setelah perilaku belajar
terjadi, tidak untuk pemadanan yang tertunda (delayed matching), di mana
konsekuensi diberikan kemudian. Sering terjadi suatu perilaku telah terpelajari
tetapi belum segera ditampakkan, dampak belajar mungkin belum terjadi segera
sampai waktu kemudian.
d) Untuk
mengatasi keterbatasan-keterbatasan teori belajar behavioristik tersebut,
akhirnya Bandura mengembangkan sebuah teori yang dikenal sebagai “Teori Belajar
Sosial”.
